Wednesday, January 13, 2016

20 dear younger self




Sumber Gambar : Google

Sebenarnya tulisan ini sudah ditulis sejak pertengahan November, tapi akhirnya terlupakan karena kerjaan yang mendadak menggila serta juga di akhir Nopember juga mendadak harus keluar kota sebulan dan juga masih dalam rangka kerjaan. Kemudian tulisan ini hanya mengendap di laptop karena serasa tangan udah kebas buat ngelanjutin. Dan mari jadikan tulisan ini sebagai tulisan pembuka di awal tahun 2016.

Here we go!

Tak terasa bulan ini saya sudah memasuki usia yang kata artikel ini adalah usia keemasan. Lebih tepatnya early-thirty-something. Usia dimana teman main sudah mulai berkurang dikarenakan kesibukan akan suami-anak-mertua. Sedangkan yang masih single masih tetap bisa maen bareng, hanya waktunya saja yang berkurang. Kalau dulu bisa nonton dilanjut makan plus nongkrong-nongkrong sampai malam. Sekarang sehabis nonton langsung pulang karena kalau pulang agak malam akan berakhir dengan greges masuk angin. Yeach... usia memang tak bisa bohong. Atau bisa jadi karena adanya perbedaan jalan pikiran yang mempengaruhi pertemanan. Yang satu semakin drama. Yang satu sudah muak dengan drama yang ada. Jadi sudah beda prioritas yang ketika akan mencoba dipertemukan tidak akan pernah ketemu. Sampai Surabayapun hujan salju akan tetap saja seperti itu.

Dan tulisan ini dibuat ya karena tetiba saja kepikiran pingin untuk berterima kasih akan diri sendiri yang sudah melewati usia 20an dengan cukup gemilang. Sudah melewati berbagai drama kehidupan yang insyaallah akan membuat saya lebih strong kedepannya. (astagaaaa.... ini saya yang sudah berubah serius, atau sense of humor saya yang sudah hilang ya?? Serius sekali tulisan ini. *tepok jidat*)

Mari kita pilah (tetap berdasar artikel yang tadi)

1. Film, terima kasih sudah dengan tidak berberat hati buat mengeluarkan uang sendiri buat nonton-nonton film di bioskop. Bisa dibilang usia 20-an adalah usia dimana kerjaannya hura-hura. Kalau ndak di bioskop ndak mau nonton. Dan satu lagi, kesadaran buat nonton film Indonesia bisa dibilang cukup terlambat. Tapi lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali. Buktinya Eifel, i’m in love saya nonton di bioskop loh. Dan lumayan banyak film Indonesia yang saya tonton di bioskop. Pelan-pelan menyingkirkan jauh mindset, ah palingan juga ntar ada di TV.

2. Buku, terima kasih juga untuk tidak pelit membeli buku. Bahkan sengaja menganggarkan membeli buku setiap bulannya. Dan yang pasti 95 persen buku yang dibeli sudah terbaca. Ingat ndak jaman ketika masih kuliah nyelengi dibotol Aqua dengan duit receh 500an demi bisa membeli buku.

3. Freelance. Terima kasih juga untuk pernah bekerja secara freelance. Yang mana kerjaan itu didapat karena orang-orang percaya bahwa kamu bisa. You can do it, Kamu yang kurang yakin akan kemampuanmu. Berkat orang lain ini kamu sadar sebenarnya kamu bisa. Cuma kurang percaya diri saja. Fee nya lumayan kan? Bisa buat tambah-tambah beli buku, bisa buat sangu jalan-jalan ataupun sekedar nraktir orang rumah ketika mudik.

4. Makanan, terima kasih untuk tidak jadi pemilih dalam hal makanan. Semua makanan kamu makan. Karena hanya ada dua kategori enak dan enak banged. Terutama menyangkut bebek-bebekan yang sampai sekarang tetap kamu makan. Akan tetapi sudah tak sesering dulu karena... hey!! Hati-hati, inget umur! Kolesterol mengancam! Yang walau test kesehatan terakhir kolesterol masih masuk kategori normal. (haha) O iya, kamu tahu? Sekarang ini kamu lagi keranjingan street food semacam dimsum dan sushi-sushian loh.

5. Terima kasih sudah lulus kuliah. Yang walau saya tahu di hati terdalammu masih ada keinginan untuk kuliah lagi. Percayalah, perjalanan hidup itu adalah kuliah hidup yang tak kamu dapatkan di bangku kuliah.

6. Terima kasih sudah merasakan jadi gembel backpacking, sudah merasakan rasanya kehabisan uang diperjalanan, sudah merasakan hilangnya bawaan barang diperjalanan. Karena dengan itu kamu jadi tahu siapa-siapa orang tulus di sekitarmu. Yang tak meninggalkanmu dikala kesusahan. Tak butuh waktu lama untuk mengetahui ketulusan mereka.

7. Terima kasih atas stamina tak tergantikan. Bisa langsung kerja setelah baru pulang di subuh hari, baru pulang dari gunung berhari-hari tanpa harus nenggak minuman penguat stamina. Bisa bertahan melek sampai pagi untuk hanya sekedar ngebut baca buku, ngebut drama korea atau ngelembur kerjaan sampai dua hari tanpa kenapa-kenapa. Sedang sekarang? Ga tidur semalaman saja besoknya geliyeng oleng minta ampun. (haha)

8. Terima kasih mau keluar rumah dan hidup sendiri. Keluar rumah sejak di bangku SMA walau belum beneran sendiri. Kuliah tak cuman keluar rumah tapi juga keluar kota bahkan pulau. Bener-benar melatihmu untuk jadi perempuan mandiri dan kuat. Walau terkadang ketika berada di titik terendah kamu mendadak ingin menyerah dan pulang, tidur kembali di pangkuan Kai Nyaik. Tapi kamu membuktikan kamu bisa bertahan. Dan itu menjadikan aku yang sekarang. Terima kasih ya...

9. Terima kasih untuk tidak bergaul di luar batas. Terima kasih untuk tidak melanggar kepercayaan yang Kai Nyaik berikan.

10. Terima kasih karena malas berolahraga. Dan itu masih berlanjut sampai sekarang. Tapi sekarang saya sadar olahraga itu penting, paling tidak diwaktu senggang saya sempatkan yoga dan body combat di kamar dengan belajar dari video download-an dari youtube. (haha)

11. Terima kasih sudah pindah kerjaan selama tiga kali. Dengan itu jadi kamu tahu, problem utama dalam pekerjaan terkadang bukan kerjaannya. Tapi orang-orang yang ada di dalamnya. Dan itu membuat saya jadi lebih bisa membawa diri dan tentunya dengan mencoba untuk tetap smart working. Belajar lebih sabar atas tekanan-tekanan yang ada.

12. Terima kasih dulu pernah sekali ikutan aksi turun ke jalan. Yah walau hanya sekali yaaaa.. ketimbang tidak sama sekali. Apalagi jaman sekarang yaaa...

13. Terima kasih telah memiliki banyak teman namun hanya segelintir yang merupakan teman atau sahabat dekat. percayalah makin kesini akan kesulitan menemukan orang-orang baru yang sepemaham dan sepemikiran dengan kita. Akan kesulitan menemukan orang yang bisa dengan mudah membuat kita nyaman.

14. Terima kasih telah memahami apa yang menjadi prioritasmu sekarang yang mungkin nanti akan berubah, seiring perjalanan waktu dan seiring pemahaman fikiran.

15. Terima kasih untuk tak semeledak-ledak dulu, lebih bisa memilih dan memilah, mana yang perlu dilampiaskan mana yang hanya perlu dijadikan pembelajaran. Mana yang lebih baik di keep sendiri mana yang selayaknya dishare.

16. Terima kasih sudah melewati kelabilan dan kegalauan akut. Yah... yang menurut kata orang yaitu sindrom seperempat abad. Kau melewati dengan baik.

17. Terima kasih untuk selalu berbagi didalam kekurangan.

18. Terima kasih untuk mulai memahami segala hal dari dua sisi. Tidak gampang ngejudge. Tak enakkan? ketika kamu jadi korban pen-judge-an orang lain?

19. Terima kasih sudah menjadi lekpis buat para krucil ya. Tapi lek, kamu masih belum bisa ngasih contoh bangun pagi lo yaaaa... inget ndak ketika salah satu krucil nangis takut telat ke sekolah karena lekphies yang janji nganterin masih asih bubuk pagi. (haha)

20. Dan yang terakhir, terima kasih untuk semuanya. ^^

(blush)(blush)(blush)(blush)

Thursday, August 6, 2015

steak holycow by chef afit


beberapa waktu lalu social media sempat rame dengan berbagai postingan tentang steak holycow ini, terutama wagyunya yang katanya lumer di lidah. waktu itu bingung, emang bisa gitu? daging-dagingan lumer di lidah?

dan ketika nemu postingan bahwa steak holycow buka di surabaya, tangan mulai gatel colek sana sini buat cari teman. dan kebetulan memang punya teman yang hobi makan tur brol ngobrol lama yang biasanya berujung ke ronde dua di bilik inul vizta menggalau berjamaah, akhirnya kesampaian juga nyobain steak yang lagi happening bianged di ranah maya. yang kemudian kalau ngelihat harganya selalu bilang jangan sering-sering kesini, namun kenyataan lain berkata lain. empat bulan terakhir sudah tiga kali makan di sini. *kekepin dompet*


pertama nyoba saya pesan wagyu rib eye dengan kematangan welldone seratus persen. dan memang enak. beda sama steak lima belas ribuan. apalagi disantap dengan mashed potato. byuh... rasane kekinian bianged. tapi tetep mencelos pas ngeluarin duit. secara ini pertama kali bayar segitu untuk makan seporsi seorang. *puasa seminggu*


ternyata masih belum jera juga, seminggu sebelum ramadhan balik ke sini lagi, dan tetap dengan teman yang sama. kali ini berhubung tanggal tua tapi pinginnya tetap kekinian, maka pilihan menu jatuh ke prime sirloin dengan kematangan medium welldone. dan ini beneran enak bianged. steak hot plate di foodcourt mendadak berasa remah-remah rengginang.



dan sepertinya kecanduan steak holycow masih belum berakhir juga, halal bihalal setelah ramadhan balik ke sini lagi. pilihan jatuh ke prime tenderloin medium welldone. *duh makin kesini bahasa kok makin ndakik-ndakik*

dan sejak makan di holycow ini, jadi ngerti apa itu wagyu dkk. apa itu kematangan medium, welldone. haha. ncen deso macak kekinian.

setelah itu jadi mikir, sebenarnya apa yang berubah? apakah lidah saya yang berubah apa-apa. tetiba teringat tentang kalimatnya kick andy, tentang perubahan sebuah nilai. waktu itu kick andy bilang, suka banged sama gado-gado dekat sekolah. tapi sekarang, rasa gado-gado sudah tak seenak dulu lagi. padahal tak ada yang berubah. yang berubah adalah kick andy sudah banyak makan varian gado-gado. di berbagai tempat. apa ini juga yang mengalami saya ya? memang belum berbagai varian, tapi paling ndak hotplate-hotplate di beberapa foodcourt sudah saya coba. dan ada beberapa resto steak seperti bon cafe yang juga saya coba. atau perubahan nilai rasa juga amerga perkara harga apa ya? secara hotplate ndak semahal holycow. jadi ketika makan makanan yang lebih lebih mahal dari biasanya seakan punya nilai kelebihan tersendiri. juga termasuk soal rasa. wallahualam.

*kenapa postingan ini berakhir serius kali* (haha)



Tuesday, July 28, 2015

Demata; Surabaya Trick Eye Museum

Pucing pala belbi... pala belbi...aaaa *pucing dikerubutin akhi-akhi piranha*
Lama ndak posting blog euy!

Padahal di kepala itu sebenarnya sudah banyak bahan yang pingin ditulis. Tapi berujung dengan berakhir dan menguap begitu saja di kepala seiring dengan (sok) kesibukan yang sangat menyita pikiran dan tenaga. halah. padahal ya sibuknya sibuk mantengin mantengin oppa-oppa didrama korea. (haha)

Padahal juga pinginnya kayak para blogger-blogger kekinian yang aktif nulis hal-hal kekinian. Namun apa daya, kegenitan secara intelektual hanya berakhir dengan baca, terus silent reader, ndak berani komen dan share karena males debat kusir. Bukan males sik. Memang ndak biasa berdebat.

Jadi mari postingang kali ini kita jadikan tonggak agar mulai rajin nulis lagi. Eman foto-foto yang teronggok di harddisk dengan nelangsa. Eman kalau ndak dijadikan bahan narsisan. *dikeprukiwongsakndayak* (haha)

Demata; Surabaya Eye Trick Museum

Selama ini ngertinya Demata itu ada di Jogja, dan pas ketika iseng-iseng ubek-ubek webnya, jebul juga menemukan sebuah info, bahwa Demata juga ada di Surabaya. Di Golden City Mall. colek teman sana, colek temen sini, semua berakhir dengan pertanyan kapan? kapan-kapan? (haha)

Dan ketika menemukan info baru lagi, bahwa Demata sudah buka di Sutos perbulan kemaren. Tetap saja berakhir dengan kapan-kapan. iya, hasil colekan sana, colekan sini menuai hasil sama, kapan-kapan. dikarenakan saya ini orangnya tak mudah menyerah, maka momen halah bihalal pertama sama teman otomatis saya arahkan kesini dong. *ketawasetan*

Kemudian terbitlah itenery. Hari Sabtu, tanggal 25 Juli 2015, ditunggu kedatangan di Taman Bungkul Surabaya, sebelum kemudian setelahnya bebarengan menuju Sutos. dan tentunya, disetiap mau ada acara kumpul-kumpul selalu ada pertanyaan yang selalu mengundang untuk ngasih emot devil saking gregetannya. (haha)

Tapi yang penting, Here we go. Saya, mba Ime, Anggie, om Gio, Dapit, Lora, Cak Wid serta Cak Pay sukses melaksakan halal bi halal dengan melabil di Demata, Surabaya Eye Trick Museum. dan ini poto-potonya. Poto saya sendirian saja ya. Kalau sama mereka nanti keeksisan saya tersaingi. *plaaaak =))


gapai tangankuuu... gieee!!

bukan cover tutup kaleng Kongguan

Tiati jatuh mbaknyah!

Interstellar wannabe 

Transaksi batu akik

menghujam jantungku 

kene lungguh jejer aku :*

Yen itawang ono lintang cah ayuuu... aku ngenteni sliramuuu 

Tiati hujan mbaknyah 

You've never lived until you've almost died, for those who fought for it, life has a flavor the protected will never know (anonim)

Jadi segitu saja dulu postingannya. Oh iyaaa... HTM untuk masuk ke sini sebesar IDR 35K sudah puas untuk foto-foto. Saya sendiripun ndak semua spot foto-foto sudah cukup puas. Dan lokasinya juga terletak di Sutos (Surabaya Town Square) Lantai 1, pas satu lantai di bawahnya XXI.

Thursday, May 21, 2015

Dieng Culture Festival (2014)

Make a wish dulu mbak, sebelum nerbangin lampion *eh 
Kemaren di path ngelihat postingan temen yang berisi gambar flyer Dieng Culture Festival 2015, dan tetiba baru sadar, ternyata Dieng Culture Festival 2014 sudah setahun yang lalu. 

Setahunan lalu dapat flyer juga dari japrian seorang teman, yang berisi ajakan buat nemani ke sana. Dan semua pritilan dia yang ngurusin, mulai ticketing sampai penginapan. Saya sih iya-iya saja wong tinggal terima beres. Tapi ternyata sama memang bukan tipe orang yang mempercayakan segala sesuatu hal 100 persen kepada orang lain. Akhirnya saya browsinglah sana sini hingga kemudian mengikuti perkembangannya via twitter. Pas saya mastiin lagi, katanya temannya dia yang juga teman saya yang akan ngurusin semua, secara si teman tinggal di Wonosobo. Dan ternyata ber-ending kehabisan tiket. saya sempat bersungut, tahu gitu mending ngurus sendiri. tapi ya sudahlah. (haha)

Dan beberapa waktu setelahnya, ada teman japri nanyain kepastian saya datang ke Dieng Culture. Katanya kalau saya jadi datang, ada teman lain dari Jakarta mau ikutan gabung. Kemudian saya menceritakan semua kronologinya dan ternyata teman saya memiliki ide cemerlang. Tetap aja datang ke Dieng Culture nanti pas di sana beli tiket masuk saja, karena katanya di Dieng Culture tahun sebelumnya bisa begitu. Tetap bisa masuk Dieng walau tanpa punya tiket paketan acara Dieng Culture. Saya bilang aja kalau begitu ayo berangkat saja. Gimana-gimananya lihat nanti saja. Kalau ndak bisa masuk Dieng, ngecamp di Prau ataupun Sikunir tak apa. 

Dan ternyata ketika saya ngasih tahu teman yang ngajak saya ke Dieng Culture pertama kali, dia katanya ndak mood berangkat. Ya sudahlah.. untunge saya bukan tipe orang yang terlalu menggantungkan diri ke orang. Apalagi perkara jalan-jalan. Saya jarang sekali batal berangkat hanya karena teman saya yang ngajak batal berangkat. Kecuali memang pas teman saya batal juga pas lagi ndak mood. (haha)

Dan untunge teman-teman naik gunung saya, pas tahu saya mau ke Dieng Culture langsung semua menyatakan mau gabung. Ada Adi, Rika dan Umam yang bahkan sudah menyiapkan lampion sendiri karena otomatis di Dieng nanti kita ndak dapat lampion. Ya iyalah, bayar tiket sepuluh ribu perorang saja minta fasilitas banyak. Terus ada mbak Dian yang nyusulin dari Jakarta, Ada pasangan Dhanny dan Peppy dari Jogja. Dan saya otomatis default sendirian dari Surabaya. Di Semarang kayak biasanya dipungut mbak Nina. Jadi akhirnya kita bersembilan ke Diengnya. 

Dan perjalanan menuju Dieng pun penuh dengan perjuangan. Perjalanan Semarang-Wonosobo yang biasanya sekitar tiga jam membengkak menjadi enam jam. Belum lagi yang Wonosobo-Dieng biasanya sekitar satu jam membengkak hampir tiga jam. Macetnya ampun-ampunan. Jadi sempanjaang jalan sudah seperti ular besi saja. Mana kondisi jalan yang terjal bikin agak ketar ketir juga. Dan kita baru sampai Dieng menjelang maghrib. Bahkan hari sudah gelap. Dengan orang berjubel memenuhi kawasan Dieng. 

Sesampai di Dieng hari sudah maghrib, dikarenakan belum tahu mau ngecamp di area mana. Akhirnya kita makan-makan dulu di sebuah warung sembari memperhatikan situasi sekitar yang penuh orang berjubel tur gantian sholat Maghrib. 

Ada empat tipe pengunjung Dieng Culture Festival saat itu.
Pertama : Pengunjung yang menggunakan tanda pengenal serta kaos warna hitam bertuliskan Dieng Culture. Ini pengunjung dengan kelas festival
Kedua : Pengunjung yang menggunakan tandak pengenal serta kaos hitam bertuliskan Dieng Culture disertai selendang motif jarik. Ini pengunjung kelas VIP
Ketiga : Pengunjung yang menggunakan tandak pengenal serta kaos hitam bertuliskan Dieng Culture disertai selendang motif jarik plus nenteng-nenteng goodie bag. Ini pengunjung kelas VVIP
Keempat : Pengunjung yang manggul-manggul ransel. Wajah kumus-kumus. Belum mandi seharian. Itu.... itu adalah sayaaaaaa (haha)

Ndak berapa lama kemudian ternyata acara lampion sudah dimulai. Sayang kamera hape ndak bisa ngapture dari jarak jauh, jadi ndak bisa mengabadikan momen lampion yang sudah beterbangan. Gambar di bawah ini adalah sebagian sisa-sisa acara lampion ketika kita menuju lokasi camping area.

Ternyata camping areanya agak jauh di belakang. Dari candi Arjuna masih lumayan berjalan lama. iya lama, soalnya yang namanya manusia waktu itu sudah semacam kayak dawet yang berjubel. eh tapi ternyata begitu sampai di camping area, ndak terlalu rame. sepertinya para pengunjung lebih memilih tinggal di penginapan dibanding camping area. Mungkin karena kondisi kemarau, jadi yang namanya Dieng sudah masuk kondisi yang dinginnya amit-amit. Sore saja waktu dijalanan masih antri kita kalau ngobrol sudah ngeluarin asap kayak ditifi-tifi saking dinginnya.

Candi Arjuna berlatar perpaduan cahaya dari panggung jazz dan lampion
Begitu mendapatkan spot yang enak buat mendirikan tenda, kita segera mendirikan tenda karena saking dinginnya dilanjut acara masak-masak tur dinner. Dan ndak kerasa waktu sudah beranjak tengah malam. Pertanda Jazz di atas awan sudah dimulai. Akhirnya saya, mbak Dian, Umam, Adhi, dan Rika melipir ke lokasi jazz. Sedang yang lain memilih untuk menghangatkan diri di tenda.

Camping Area

Lokasi Jazz sudah penuh orang berjubel sambil nyemil-nyemil menghangatkan diri, karena waktu itu kita ndak bawa cemilan tetiba segerombolan mas-mas nawarin kita cemilan. Sepertinya si mas-mas lokal kalau dari pacaan kostumnya. Lumayan sambil dingin-dingin nikmatin musik sambil nyemil-nyemil. Awalnya masih sungkan-sungkan buat ikutan nyemil tapi lama-lama kok habis banyak. (haha)
Satu setengah jam kemudian saya memutuskan balik ke tenda. Badan dan mata ndak kuat capek. Saya lelaaah... Lelah hati dan perasaan... Laaaah?? (haha)

Jazz di atas awan
Suasana menghangat dengan adanya penerbangan Lampion
Begitu sampai tenda, ternyata teman-teman yang lain belum pada tidur malah masih asik masak-masak. Karena mata beneran ndak kuat saya lebih memilih gelundungan berkemul sleeping bag. Baru tidur bentar saja mendadak sudah pagi. omoo.. begitu keluar tenda buat ke kamar mandi dilanjut fast subuh-an, Embun Upas di mana-mana, putih dimana-mana. Embun Upas adalah embun yang membeku menjadi butiran es. Banyak yang mengabadikan moment ini buat foto-foto biar kerasa kayak luar negeri. Kekekeke. Saya mah hanya moto embunnya, sudah ga keburu buat poto selfiean (haha)

Embun Upas di Rerumputan

Embun Upas di Pohon Cemara
Untuk prosesi ruwat rambut gimbal.... tobe continued (hassle)

Monday, May 11, 2015

rivertubing di sungai magung wonosobo

Rivertubing di sungai Magung Wonosobo ini, adalah rangkaian perjalanan hari keduam setelah hari pertama melipir ke curug Lawe, sama vihara Avalokatisvera. Jika hari pertama masih berada di rangkaian kota Semarang, hari kedua ini kita bergeser ke Wonosobo.

The team. Kika : Rika, MbaNina, Nyanyah, Pasangan KameLia, MbaEndah, Umam, MbaDian dan Adhi (yang jepretin)
Jadi pagi itu, baghda subuh, saya, mbak Nina, mbak Dian, serta pasangan Kamelia meluncur menuju Wonosobo, tak lupa mampir dulu ke sebuah warung makan di alun-alun Temanggung. Warungnya bersih dengan berbagai pilihan menu. dan tak lupa ada tempe kemul yang masih hangat menggoda untuk segera dinikmati. Kita makan tempe kemul sudah semacam rebutan saja, karena selain makan di sini kita juga mbungkus buat dimakan nanti di area rivertubing.

Sungai Magung sendiri adalah sungai kecil yang nantinya bermuara di sungai Serayu. Sungai Magung adalah tipikal sungai arus yang kencang namun ndak terlalu dalam. Mirip dengan Kali Kromong ketika rafting di Obech atau Toss Adventure. Dan rivertubing di sungai Magung ini belum terlalu happening karena masih baru. Dan kebetulan salah satu temen naik gunung jadi ranger di sini. Jadilah kita rame-rame kesini pingin nyobain di rangeri sama dia. Dan itupun juga tahunya tempatnya ini karena ajakan dia juga.

Sungai Magung
Dikarenakan arus yang deras, ini beneran bikin ketar-ketir. Apalagi saya dapatnya ban yang kecil. Bolak balik kepental dan lepas dari ban berkali-kali. Tereak-tereak kayak orang kesetanan karena ketakutan. Sampai Umam sepertinya ikutan desperate ngerenjerin kita. Paling Umam iki mbatin, wes mbak sekali aja tubing bareng mending kita naik gunung bareng aja. Jangan tanya pantat yang sakit karena bolak-balik ketatap batu. Bahu punggung paha yang lebam. Atau tangan dan kaki yang luka akibat kegores batu ataupun ranting pohon. Belum muka yang merah kena matahari terik. (haha)

Tapi serunya memang ndak ketulungan. Kalau arum jerang degdegannya hanya ketika pas jeram dan perahu dibalik. Kalau rivertubing begitu pantat duduk di ban. Yang namanya jantung sudah degdegan ga karuan. Perut mules parah. Dan ini cukup bikin kapok saya untuk rivertubingan lagi. Mungkin kalau arusnya ndak kuat bisa saya pertimbangan. Tapi...tapi.. memang adrinalin rivertubing itukan diarus yang deras. (haha) Gimana caranya tetep bisa meluncur hore nan seimbang serta butuh kepiawaian ngindarin batu besar kalau ndak ingin sakit semua. 

Saya masih bisa senyum bahagia depan kamera, padahal setelah jerit-jerit tanpa ampun (haha)


Tubing berkelompok
Ketika rivertubing dimulai kita bisa memilih untuk meluncur sendiri apa berkelompok. Awalnya saya berkelompok karena merasa kurang seru. eh setelah sepanjang arus saya minta berkelompok lagi. #galauketakutan(haha)

Begitu sampai diujung garis finish saya ditawari lagi untuk mengulang dari awal. dan saya langsung emoh. begitu juga pas diajak turun lagi di rivertubing part dua. saya emoh lagi. Padahal mba Dian bisa nyobain berkali-kali tanpa ketakutan. Sepertinya memang nyali saya yang masih cetek. (haha)

 

Me n My Ego Template by Ipietoon Cute Blog Design