Showing posts with label sindoro. Show all posts
Showing posts with label sindoro. Show all posts

Thursday, January 5, 2012

2011, travel's note

daftar keluyuran saya selama 2011, yang belum kesampaian itu ke gunung rinjani sama gunung gede. untuk tahun ini tidak terlalu menarget mau ke gunung mana, la wong semeru aja kemaren belum kesampain buat muncak. :D

  1. 1 januari 2011, merayakan tahun baru dengan bubuk cantik di dalam mobil di posko kawah ijen. jam 12 malam banter suara orang dangdutan sambil nari-nari di lapangan kosong. sedang saya lebih memilih kelukupan dalam sleeping bag, karena jam 3 pagi harus bangun guna mengejar sunrise di kawah ijen. tetep bersama team 16. cerita lengkap di sini.
  2. 8 s/d 11 april. naik ke sindoro. waktu di sini ndak muncak. hanya sampai puncak bayangan 2 yang berada pas di bawah watu tatah. ke sini bersama teman-teman dari komunitas gpl (gerakan peduli lingkungan). cerita lengkap di sini.
  3. 14 s/d 17 mei 2011. escaping ke karimun jawa selama 4 hari. ke sininya juga gara-gara diajak adek tingkat di kampus. dan ke sini rame-rame berenam dengan teman-teman dari komunitas backpacker indonesia region surabaya.cerita lengkap di sini.
  4. 28 mei 2011. batu night spectaculer bersama mbak nana, mas agung, mas didik, mbak wulan serta mbak aar. escaping dadakan yang seru. cerita lengkap di sini.
  5. 2 s/d 3 juni 2011. rafting ke obech adventure sama teman-teman kantor. dan juga baru pertama kali ke sumber air panas padusan. cerita lengkap di sini
  6. 29 september 2011 s/d 3 oktober 2011. escaping ke krakatau. padahal waktu itu ternyata kondisi krakatau dalam keadaan siaga. tapi kita yang ga tahu info tentang itu. ke sini bersama team 16 yang juga digabung sama teman-teman lain. cerita lengkap di sini.
  7. 29 september 2011, telaga sarangan. escaping dadakan juga setelah habis dari nikahan temen kantor di madiun. cerita lengkap di sini.
  8. 4 desember 2011, belajar tentang sejarah dan arsitektur ke situs trowulan majapahit. ke sini bersama teman-teman dari grup forum arek arsitektur its. di sini saya juga belajar tentang imaj majapahit dari pak langit kresna hadi. cerita lengkap di sini.
  9. 24 s/d 27 desember 2011. semeru. untuk kedua kali berselimut kabut ranukumbolo. dua kali juga di malam hari hujan-hujanan di ranukumbolo. kejebak badai. dan juga rekor saya, ranupane-kalimati ditempuh dengan 9 jam jalan kaki. meminum air dari danau di ranukumbolo serta sumber mani atau kalimani di dekat kalimati. cerita lengkap belum di posting ^^
sekian. semoga tahun ini. travel's note perjalanan saya bertambah dengan beberapa tempat baru. ameen.

Monday, November 7, 2011

Catper Pendakian Sindoro 8 S/D 11 April 2011 (part 2)



postingan part 1 ada di SINI 

Setelah istrahat tercukupi, kita memulai perjalanan lagi demi mengejar sampai pos III sebelum gelap, kita belum dhuhur-an sama ashar-an. Dan begitu sampai di pos III dengan ketinggian 2.530 mdpl badan langsung rebahan di tanah lapang ini, serta dilanjut dengan menjamak dhuhur sekaligus ashar.

Di pos III ini tanah lapangnya bener-bener lapang, bahkan sudah ada beberapa tenda yang sudah berdiri dari kelompok pendaki yang lain. Selama beristirahat di sini, kita bisa menikmati pemandangan yang indah ke gunung Sumbing, serta puncak bayangan yang membuat kita berpikir “ beneran ini? Jalur yang nanti mau saya lewati?”

Dari pos III menuju puncak bayangan satu dan puncak bayangan dua amatlah terjal dan berbatu disertai dengan kerikil dan debu. Meskipun medan sangat berat, jalur pendakian ini ditumbuhi oleh pohon lamtoro dan tanaman perdu. Waktu itu jam di tangan kiri saya menunjuk sekitar jam delapan malam, sejauh mata memandang gelap semua, hanya hamparan bintang di langit yang menjadi hiburan.

Dan saya tak membiarkan pikiran kosong, sambil terus meraba dan meraba bebatuan yang ada di depan saya, saya merasakan ada bebauan yang saya yakin itu bau bunga. Tapi saya tidak tahu, bebauan itu dari bunga apa. Mencoba menciumi perdu-perdu yang ada di kanan-kiri saya, tapi perdunya tidak berbau. Mencoba bertanya ke teman di belakang dan depan saya, mereka tak mencium bau apa-apa. Padahal saya sudah heboh bilang saya mencium bebauan harum.

Saya sempat merinding, kenapa kok cuman saya yang mencium bebauan ini. Mana kondisi saya juga waktu itu dalam kondisi  on periode pula. Heuu… sepanjang jalan saya tak henti-hentinya berdoa, serta membaca semua surat-surat pendek yang saya hafal.

Di bawah puncak bayangan ini kita beristirahat, waktu itu formasi masih default saya sama fa, ditemani mbak Nina, Dhanny, mas Nanang sertta mas Jenggot. Dan di sini juga kita akhirnya memutuskan untuk beristirahat total. Tenaga sudah semacam habis, dan untuk summit attack-nya dibicarakan lagi nanti. Mengingat posisi tempat beristirahat kita yang berbahaya, maka diputuskan naik beberapa meter lagi untuk mencari tanah lapang.

Oh iya, pas istirahat di bawah puncak bayangan pertama, sempat cerita ke anak-anak, kalau saya mencium bebauan semacam bunga tapi tidak tahu sumber bebauan itu dari mana. Anak-anak cuman bilang “berdoa yang banyak aja mbak!” Dan setelah itu Fa tanya di belakang mas Nanang itu siapa? Di belakang mas Nanang itu mas Jenggot. Terus Fa bilang “Lah terus yang di belakang mas Nanang, pakai kerudung warna putih itu siapa?” Kita hanya bisa sama-sama mengangkat bahu, secara di kelompok kita yang berkerudung itu cuman saya, sedang saya berada di depan Fa, dan saya berkerudung warna coklat bukan warna putih.

Naik beberapa meter ini berasa berkilo-kilo meter, gimana ndak, dengan luasan jalan sejengkal, gelap-gelapan, kanan-kiri batu, sekali salah injek, bisa tergelincir, dan jatuhlah kita. Bisa selamat dan bisa ndak. Kok mendadak berasa serem amat yak? Dan begitu sampai atas, ternyata sudah berdiri beberapa tenda. Namun, karena sempitnya lokasi, ada beberapa teman yang naik lagi hingga puncak bayangan dua, yang beberapa ratus meter di bawah Watu Tatah, dan mendirikan tenda di sana.

Malam terasa berjalan teramat cepat. Berasa belum lama tidur, sekitar jam 3 dini hari di luar tenda sudah berisik persiapan buat summit attack. Saya yang waktu itu on periode hari pertama memilih beristirahat di tenda. Dan berjanji suatu hari nanti semoga bisa naik ke Sindoro ini lagi buat summit attack. Sambil menahan diri dari keadaan perut yang tidak bersahabat sama sekali akibat on periode ini, saya melanjutkan tidur hingga pagi menjelang, dan terbangun sekitar jam 5an.


Bangun pagi langsung di sambut indahnya pemandangan dari puncak bayangan satu ini. Dari sini terlihat tiga puncak gunung yang seakan-akan saling bersebelahan. Ada puncak gunung Sindoro, gunung Merbabu dan gunung Merapi. Subhanallah, ketiga puncak gunung itu tertutup kabut. Dari posisi ini, kita berada lebih tinggi dari awan. Awan yang serupa kapas, seakan-akan bisa langsung kita genggam dari sini. Di tambah matahari yang terbit dengan malu-malu, menambah kelengkapan keindahan alam ciptaan Tuhan ini.



Dan sebagai kaum yang tidak lupa untuk mengabadikan semua moment, kita berfoto-foto di sini. Dan saya masih kagum ketika melihat jauh ke bawah. Eh beneran saya sudah naik setinggi ini? Dan jalan air yang semalam saya tanyakan bolak-balik ke mas Nanang, kelihatan jelas dari sini. Jalan air adalah jalan setapak jalur pendakian, yang karena saking membelok-beloknya, hingga kelihatan seperti arus air atau daerah aliran air.



Sembari menunggu turunnya teman-teman yang summit attack, kita di sini masing-masing satu anak mendapat satu krekses besar guna memunguti sampah sekitaran tenda sampai bersih kemudian membakarnya. “Mendaki tak hanya untuk menikmati indahnya ciptaan-Nya, tak hanya untuk mengalahkan semua ego, tapi gimana caranya agar mendaki itu juga untuk memelihara, merawat dan mencintai bumi.“

Dan ketika bebersih ini, kita baru sadar kalau kita kehabisan persediaan air. Dan untunglah teman-teman yang melaksanakan sumiit attack sudah membawa beberapa botol kosong buat di isi air di atas. Teman-teman yang melakukan summit attack ada mas Nanang, mas Jenggot, Udakuda serta teman-teman dari Bandung. Sedang yang lain, cukup hingga puncak bayangan pertama sama seperti saya.

Jam menunjukkan sekitar jam delapan pagi. Setelah sarapan mie dan secangkir kopi, kita mulai bersiap turun, perjalanan turun tidaklah mudah. Mungkin ada yang berpikir, tinggal turun saja, tidak terlalu butuh tenaga. Akan tetapi di sini, dengan kondisi badan yang masih capek, apalagi daerah lutut dan pergelangan kaki. Perjalanan turun merupakan tantangan sendiri. Waktu itu saya sempat mengalami kram. Dan berhenti beberapa saat sampai kram saya sembuh.

Ketika turun yang kita butuhkan bukanlah kecepatan dalam berjalan, akan tetapi kekuatan lutut dan pergelangan kaki. Karena di sinilah –istilahnya- rem kaki harus benar-benar kuat. Karena begitu ga kuat sedikit, kita bisa keselip, kalau sudah keselip teman di bawah tinggal nunggu kita, dalam keadaan sehat apa badan carut-marut kegores bebatuan dan perdu.

Waktu itu saya lebih sering glesotan, karena rem kaki saya terutama daerah engsel, sepertinya remanya sudah aus jadi tidak makan. Dari pada saya harus jatuh bergulingan saya lebih memilih glesotan di jalan menurun, dan ini terjadi lebih dari tiga kali. Bahkan ketika sampai pos satu, saya kepikiran buat naik ojek saja. Cumin kok jadinya antiklimaks ya? Kalau kemudian saya turun dengan naik ojek.

Dengan ditemani mbak Nina, mas Nafis, Dhanny dan Pephi saya menapaki langkah demi langkah menuju base camp. Hujan turun dengan derasnya, dan saya menggigil kedinginan menambah semakin melambatnya langkah saya.  Dengan sabar teman-teman saya ini menemani, bahkan Dhanny sempat menawarkan diri untuk membawa cariier saya, namun saya tolak, ah saya harus mengalahkan semua ego saya ini. Saya harus sampai base camp dengan diri saya dan tenaga sendiri.

Untungnya mas Nafis ngajak saya ngobrol, sehingga perjalanan ini tak begitu terasa lambat dan lama. Saya sempat bertanya “kenapa sampean menikmati sekali hujan-hujanan ini? Berlari-lari kecil, loncat-loncatan dengan riang?”Dan tahu dia bilang apa “saya hanya menikmati seperti ketika saya masih kecil mbak, main-main bermandikan hujan. Karena dengan ini saya jadi tak merasa capek dan menikmati”

Ah, saya jadi malu dibuatnya. Dari tadi saya menganggap hujan yang turun membuat beban di punggung saya bertambah, membuat langkah saya menjadi tambah lambat, membuat saya jadi menggigil. Ah, kenapa saat ini juga saya tak mengubah mind set saya itu? Okee..dengan sisa tenaga yang ada, saya mencoba mengubah pikiran saya itu menjadi seperti apa yang mas Nafis pikirkan. Dan lumayan, saya menikmati sesuatu di sana, teringat ketika saya kecil, bermain air sambil hujan-hujanan di sawah. Dan.. yah! Tentu saja dengan semangat dan tenaga yang masih tersisa.

Thursday, April 21, 2011

Catper Pendakian Sindoro 8 s/d 11 April 2011

Awal mula..

Diawali dengan @dgreatfa me-mention saya ditwiiter bahwa ada ajakan naik gunung dari @masebejo, waktu itu saya tidak langsung menanggapi karena selain masih umek dengan kerjaan yang tingkat pressure lumayan lagi tinggi beberapa bulan terakhir ini juga di bulan april ini saya sudah ada planning naek ke gede tanggal 22 besok yang ternyata akhirnya batal karena sesuatu dan lain hal.

Tapi kemudian saya tertarik dengan user @masebejo itu, entah di mana pokoknya sepertinya saya tahu user id itu, setelah usut punya usut yang ternyata kemudian saya di sebuah rumah bernama ngerumpi.com, dan ternyata id ini saya follow tulisannya di sana, pantes saja merasa tidak asing..:D

Baru setelah saya tahu bahwa pendakian ini tak sekedar pendakian biasa, tapi ada misi yang terkandung di dalamnya, sebuah misi akan kepedulian tentang lingkungan, sebuah misi tentang pendakian yang bersih, sebuah misi yang istilahnya kita bersih-bersih gunung...what? ngebersihin gunung? Emang bisa? Karena tentu saja sangatlah susah buat menjaga gunung dari sampah-sampah, dengan misi paling tidak dengan tangan kita sendiri kita mencoba mengurangi sampah-sampah yang ada selama jalur pendakian saya mengiyakan pendakian ini.

Jumat, 8 April 2011

Pagi : ngantor dengan kostum kemeja dan celana bahan, tapi kaki bukannya heels tapi sandal gunung serta dipunggung memanggul yang namanya backpack. Sampai kantor ketar-ketir ga jadi brangkat mengingat volume kerjaan hari itu yg langsung meningkat, serta adanya sp buat lembur hari sabtu, dan adanya pemberitahuan bahwa sabtu besok ada uji teknik...*ndak bisa mikir...kepala udah pening duluan*

Siang : sms-an sama @dgreatfa, dia berangkat dari malang jam 4 sore dengan membawa mobil yang sudah kita carter sampai pos pendakian kledung dan mungkin akan tiba di kantorku sekitar jam 7an..oke deal!! Di sms mbak nina bahwa @dgreatfa tak membawa sleeping bag sehingga saya harus bawa sb sendiri karena punya dia nantinya akan dipakai @dgreatfa.

Sore : mulai panik dengan volume kerjaan, dan tetap memutuskan berangkat..dan dikala magrib baru sadar kalau belum makan seharian. Memutuskan makan dulu sebelum @dgreatfa datang menjemput. Sekitar jam 7-an @dgreatfa datang merapat yang ternyata butuh waktu 2 putaran buat menemukan kantorku. Disorientasi saya kumat ketika harus ngasih tahu rute kekantor.

Siap berangkat, dan ternyata baru tahu kalau @dgreatfa dan dua temen lainnya belum makan. So? Sebelum meninggalkan Surabaya kita berempat sempet memutari 2 lap tugu pahlawan sebelum menemukan apa yang namanya Bebek Tugu Pahlawan. Waktu makan saya mendapatkan sms yang kemudian saya tahu kalau sms itu dari @masebejo, padahal sebelumnya tak piker dari mbak nina..tiwas sebelumnya wes manggil mbak di sms-sms balesan..:)

Selesai makan, kita berempat siap kemon berangkat, dan masalah disorientasi jalan yang sudah kejadian dua kali tadi terulang lagi. Kita berempat sudah masuk tol yang arah gresik..tapi kok jalannya kita tetep muter-muter situ aja ya? Sudah 15 menit berlalu tetep muter-muter dalam tol tanpa tahu arah harus melaju kearah mana. saya sendiri satu-satunya orang yang pernah lewat tol ini juga mengalami disorientasi. Diperparah saya sendiri malah masuk angin serta muntah-muntah di jalan..:( *ndak mbois blas...muntah-muntah depan 3 pria...pasaran langsung turun* *appa cobbbaaaa*

Setelah muter-muter tak tentu arah, kita berempat memutuskan keluar tol dan kembali ke Surabaya, serta menuju gresik tanpa melewati jalan tol, tapi jalan biasa yaitu daerah kalianak..dan seterusnya di jalan mencari mobil atau kendaraan lain dengan plat daerah Semarang atau Magelang..terkesan tolol? Memang..kita berempat hanya bisa tertawa menertawakan diri sendiri..

Setelah melewati lamongan @dgreatfa atau fauzan memutuskan tidur mengingat ini perjalanan akan panjang dan besok juga dibutuhkan stamina yang cukup buat memulai pendakian. Kemudian saya juga menyusul untuk tidur mengingat badan yang udah capek dan pusing yang mulai menyerang, ga lucu kalau besoknya saya tak jadi naik hanya karena tiba-tiba badan ndak fit.

Bangun-bangun jalan gelap, ndak tahu posisi mobil ini ada di mana. Tanya sama temen yang nyetir juga ndak tahu dia, akhirnya merhatiin jalan yang gelap sambil nyari plang apa aja yang menunjukkan di mana posisi kita sekarang. Kalau dipikir-dipikir bego juga ya? Kita berempat di mobil pake hape yang ga abal-abal tapi ndak kepikiran buat buka google map..:D *alas an utama...hemat batere*

Akhirnya nemuin plang juga..dan ternyata masih di Rembang, masih brapa km lagi ya buat sampe semarang? Dan ketika di Rembang ini kita ternyata nyasar lagi sampe Demak..^^V. Baru yakin ndak nyasar ketika udah nemuin plang di jalan Semarang 36km lagi...yipppeee...padahal mbak Nina sama mas Nafis udah bolak balik nanya di mana posisi kita.

Sabtu, 9 April 2011

Ketika jam menunjukkan angka jam lima sekian-sekian, kita berhasil merapat di rumah mbak Nina buat numpang subuhan sekalian jemput. Sekitar jam 6-an kita meninggalkan rumah mbak Nina menuju pos pendakian Kledung. Kita di sana merapat sekitar jam 10an yang disambut dan sudah ditunggu sama teman-teman dari Wonosobo, Jogja, semarang, jepara sama Bandung...*bener-bener bedol desa...dan ternyata dari 25 pendaki, ceweknya cuman 5 orang..:D

Sesampainya disana kenalan dulu sama mereka-mereka, ada mas Nafis selaku @masebejo..:p, ada mas nanang, mas jenggot, uda, dhanny, pepi, nana, indra...yang sampai sekarang saya ndak hafal nama panggilannya..:D, terus dilanjut dengan sarapan pagi dengan menu nasi putih, mie dan telor dadar buatan ibu-ibu di base camp kledung.
Sekitar jam 11-an..rombongan pendakian yang terdiri dari 25 orang ini memulai pendakian. Rute pertama melewati jalan berbatu rapi sekitar 2 km, kanan kiri ditemani dengan lading sawah warga yang ditanami tanaman kubis, jalan berbatu ini mulai kerasa langsung menanjaknya terurama buat saya yang memang bener-bener tanpa persiapan latihan fisik dulu walau jogging barang 5 lap sekalipun. Beda dengan mbk Nina yang masih semangat, saya mulai berkeringat parah di sini. Rombongan masih berdekatan, masih diiringi senda tawa dan gurauan serta senyum yang sangat sumringah.


Begitu jalan berbatu rapi ini ilang, 2km sudah terlewati didepan mata langsung terpampang jalan sempit berbatu di campur tanah serta licin dan tergelincir kalau ndak hati-hati. Setelah itu kita akan menemukan pos I sibajing 1900 mdpl disini masih terasa sejuk kanan kiri rindang dengan pepohonan pinus kanan kirinya. Nah, dari pos I ini berdasar hasil gugeling katanya kita akan melewati 2 buah punggungan gunung untuk sampai di pos II dengan ketinggian 2120 mdpl.

Nah, ketika dari pos II ke pos III ini jalannya sudah mulai naudhu billah kemiringannya, belum lagi batu-batu buat pijakan dan pegangan, dan dari pos II ke pos III ini kelompok yang masih gerombol-gerombol mulai terpisah..dan udah default, saya sama @dgreatfa menjadi rombongan terakhir dan untuk mbak nina yang sebelumnya udah jogging 5 lap, belionya masih melenggang dengan santainya sedang aku sama @dgreatfa napas udah kembang kempis.



Dan mator tengkyu yang banyak buat tim sapu bersih mas nanang dan mas jenggot yang udah dengan setia menemani kita..:D. Selama pos II ke pos III ini kita juga bolak balik istrahat berkali-kali, bahkan walau masih ditanjakan sekalipun saya rela guling-guling di bebatuan kalau udah capek tak terkira.

Untuk ngilangin capek agar tetep semangat, saya sama mbk nina ngoceh kesana kemari dari mulai menghitung kemiringan medan ini sampai membandingkan medan pendakian sindoro ini dengan medan pendakian-pendakian sebelumnya, dan sampai pada kesimpulan : medan ranukumbolo sekalipun masih ringan dibanding medan sindoro ini..:D *suatu alasan pembenaran agar ga dibilang terlalu manja kalau udah capek..:*



Dan yang pasti, saya amat yakin mas nanang pasti aslinya sudah bosen sangat mengingat saya bolak balik nanya, jalan air itu yang mana sih? Watu tatah itu mana sih? Pos III berapa meter lagi?? *apppaaaa??? Berapa meter??? ). Yang ada mas nanang cumin jawab masih di depan kok mbak, ntar juga nyampe..ntar?? yah...ntarnya mas nanang ternyata beda jauh sama ntarnya saya..:D



Belom lagi kondisi fauzan yang sudah teramat lelah, antara capek, ngantuk dan lapar jadi satu. Sehingga begitu menemukan batu besar bin gede serta tanah lapang, kita berasa menemukan circle K atau indomaret atau KFC..hihi..hati hepi banged..bagaimana tidak, udah berasa nemu surge aja, tanah lapang buat rebahan, ngeluarin kompor dan nasting, ngeluarin logistic, bikin mie, bikin stmj, bikin kopi terus langsung poto-poto narsis dengan latar gunung sumbing yang berdiri indah dengan cakepnya, begitu kenyang dan wajah jadi kembali sumringah..smileeee....kliiik!!!.



Setelah istrahat tercukupi, kita memulai perjalanan lagi demi mengejar sampai pos III sebelum gelap, kita belum dhuhur-an sama ashar-an. Dan begitu sampai di pos III dengan ketinggian 2.530 mdpl badan langsung rebahan di tanah lapang ini, serta dilanjut dengan menjamak dhuhur sekaligus ashar. Di pos III ini tanah lapangnya bener-bener lapang, bahkan sudah ada beberapa tenda yang sudah berdiri dari kelompok pendaki yang lain.

To be continued.....:D cerita selanjutnya di ganti poto-poto ini dulu....

*ps....3 perempuan dibawah ini adalah Kartini masa kini loh..^^V









 

Me n My Ego Template by Ipietoon Cute Blog Design