Friday, May 8, 2015

Sumbing; for the second


Gunung Sindoro, View dari Pestan Gunung Sumbing

Sebenarnya gunung Sumbing ini adalah salah satu gunung yang cukup sekali saya nanjaknya. salah duanya adalah gunung Sindoro. Kenapa? Kapok sama tracknya. Tapi ketika suatu hari dapat BBM ajakan dari mbak Dian, saya tetap saja tak kuasa menolak. Iya. Cukup diajak naik gunung saja saya sudah bahagia. Padahal yang ngajak mbak-mbak. Apalagi kalau yang ngajak mas-mas. Sepertinya bakal tujuh hari tujuh malam saya bahagia dan ga berhenti tersenyum. #halah. 

Kaki yang telah berjalan lebih banyak dari biasanya

Jadi setelah selama bulan terjadi penggodokan bongkar pasang personel dan menu makanan selama di gunung. Kemaren tepat tanggal 30 April malam saya meluncur ke Semarang bersama Hasan. Di kondisi Surabaya hujannya tak berhenti dari sore, begitupun perjalanan ke Semarang, hujan tetap setia menemani. Ditambah lagi, pengemudi bus yang sepertinya Paul Walker wannabe alias ngebut medeni bikin ndak bisa tidur sepanjang perjalanan Surabaya-Semarang cukup membuat badan agak sedikit kelelahan. Gimana mau bisa tidur, beberapa kali badan seakan melayang terpental keatas selama di bus. Bahkan penumpang yang di belakang semuanya pada berdiri ikut mengawasi jalannya balapan pak supir ini. Saya sendiripun sempet keder. Sempet mikir salah naik bus Sumber Kencono atau Sumber Slamet, yang mana dua bus ini memang terkenal ugal-ugalan di jalan. Untunglah begitu ngecek karcis ini bukan bus dua itu, paling tidak lumayan bikin hati (sedikit) adem ayem dan tetap ndak menyurutkan semangat buat tetap lanjut naik gunung Sumbing. 

Cumi Bumbu Hitam

Kita baru tiba di terminal Terboyo sekitar jam tujuh pagi. Niatnya mau beristirahat sebentar di masjid terminal. ternyata masjidnya tutup dikarenakan baru saja dipel persiapan buat sholat Jumat. Akhirnya kita hanya menumpang di toilet saja dan setelah itu dilanjutkan dengan langsung mencari bis jurusan Purwokerto guna menuju Wonosobo. Dan tak lupa kita berdua sarapan dulu di warung terminal. omooo... warung menjual lauk cumi bumbu hitam. dan ternyata pas saya nyoba bumbunya cucok banged sama lidah saya. Sedang si Hasan sarapan mie telor. dan anak ini saking capeknya, sampai ndak merasakan kalau mie nya tanpa bumbu karena bu warung kelupaan naruh bumbu di mie. (haha)


Lagi ngelamunin apa mbak?
Sesampai di Wonosobo hari sudah sangat siang. Sambil menunggu Adi dan cak Doni merapat, saya Hasan dan mba Nina glesotan di terminal sembari nyemil-nyemil dan dilanjut menuju masjid guna mandi-mandi dan sholat dhuhur-ashar. Sekitar jam 4 Sore baru personel kita lengkap. Saya dan Hasan dari Surabaya, mbak Dian dan mbak Indri dari Jakarta, mbak Nina dari Semarang, cak Doni dari Bandung serta Umam dan Adhi dari Wonosobo. Selalu dan selalu, entah kutukan apa, tiap saya naik personele selalu dari berbagai kota. 

Untuk mbak Dian, mba Nina, Adhi dan Umam ini sudah entah kali keberapa saya lan jalan tur naik sama mereka. Dan mungkin gegara keseringan saya gaul sama mereka bisa dibilang saya sering maen ke Semarang dan Wonosobo. Bahkan setahun terakhiran bisa dibilang saya sudah ke Semarang-Wonosobo sekitar empat sampai lima kali. Dan ini sukses membuat orang-orang dilingkungan saya curiga. terutama lingkungan kantor. ada apa sik di sana? sering banged kesana? pacarnya orang sana? mertua orang sana? (haha)

Sedang mba Indri ini baru pertama kali ketemu dan jalan bareng, walaupun sebelumnya sering melihat mbaknya beredar di facebook di group-group gunung semacam Indonesian Mountain dan Narkopian. Sedang untuk cak Doni dan Hasan ini kali kedua saya jalan bareng mereka sebelumnya jalan bareng ke Banyuwangi waktu rihlah grup MyQJatim. dan otomatis mereka berdua bawaan saya di pendakian ini. Secara sebelumnya saya sama mbak Dian memang berburu mas-mas, karena personel awal banyakan ceweknya dan kekurangan mas-mas. (haha)

Track dari pos dua Genus hingga Pestan, Kalau ndak tanah basah licin ya bercampur batu tanah ndak kalah licin tur nanjak

Sekitar jam tujuh malam kita memulai pendakian, Perjalanan malam dengan menggunakan jalur lama. Kalau kata Adhi lebih enak jalur lama ketimbang jalur baru. Sedangkan pendakian sebelumnya saya yang juga naiknya sama Adhi, Umam dan mbak Nina menggunakan jalur baru. Saya manut saja, berarti ndak semelelahkan dulu dong ya. tapi ternyata kenyataan berkata lain. Rute boleh lebih pendek, tapi jalur dan track lebih nanjak. dan nanjaknya beneran naudhubillah. Hingga dari buat sampai ke pos satupun it takes 2 hours. omooo. Sebenarnya bisa berhemat waktu dengan naik ojek. tapi ojeknya serem euy. Piye ndak serem, pencahayaan hanya dengan head lamp dan penumpang duduk di depan bukan di belakang.

Pos II Genus KM 4. Kita Sampai sini sekitar jam 12 siang
Selfie terbalik dulu #sayamahorangnyagagitu
Tujuan awal kita langsung menuju Pestan, tapi dikarenakan kabut yang tebal akhirnya kita memutuskan untuk ngecamp di pos satu saja. dan ternyata benaran, belum lama mendirikan tenda, hujan turun membasahi semalaman. dan sepertinya ini salah satu penyebab saya masuk angin hingga muntah pagi itu. Saya yang tak bisa minum sirup akhirnya mencampur sirup antangin dengan setengah gelas air. ndak lucu kalau selama pos 1 hingga pestan saya collaps.

Sunset di Pestan 
Perjalanan dari pos 1 hingga pestan memakan waktu sekitar 5 jaman. dari pos 1 kita naik jam sembilan pagi. Dan sampai Pestan sekitar jam dua siang. Nah di pestan ini kita membangun satu tenda untuk barang dan masak spageti buat yang mau lanjut sumpit. Mbak Dian yang awalnya ndak ngejar summit akhirnya ikut summit sama mbak Indri, Adhi, Umam, cak Doni serta Hasan. Sedang saya sama mba Nina tetap pakai rencana awal, hanya naik hore-hore ndak summit. Jadilan sepanjang waktu menunggu teman-teman summit kita gunakan untuk masak-masak sambil menggalau. dan ternyata angin tur kabut tebal serta sesekali hujan membuat badan saya drop lagi. Masuk angin lagi dan muntah lagi. Makanan di perut seperti Spagethi, Bubur sumsum, Dadar Jagung hingga Pisang Goreng keluar semua. (haha)

Tumis Sayuran Pahit (Lupa nama sayurannya) (haha) 
Bubur Sumsum
Sampai sore menjelang malam saya sama mbak Nina resah gelisah. Mba Dian, Mba Indri, Umam, Adhi, cak Doni dan Hasan ndak muncul-muncul. Yang menjadi tolak ukur adalah pendakian kita sebelumnya. Dulu Summit, Pestan-Puncak-Pestan sekitar 4 jam. Jam satu siang di Pestan, dan sampe Pestan lagi sekitar jam lima sore. Ini sampe jam enam mereka ndak turun-turun. Padahal sudah sekitar enam jaman. Akhirnya karena ndak betah nahan resah gelisah, saya memutuskan untuk nanya para pendaki yang juga habis summit. 

"Mas, Ngelihat rombongan empat cowok dua cewek ndak mas?". 
"Adanya bersembilan mbak, dua cewek" 
"oh, yang berenam ndak ketemu ya mas?" 
"itu anggotanya ada yang gemuk ndak?" 
"oh iya ada" 
"mungkin yang bersembilan itu mba. sapa tahu gabungan sama team lain" 
"oh iya bener juga" 

dan setelah sejam kemudian, ada rombongan datang dari atas. saya tereak. "adhiii??"
mendadak ada yang jawab : "Hasaaan" 
Syukurlah akhirnya mereka turun dengan selamat juga. dan si Hasan langsung masuk tenda tidur gegera drop lagi. 

Dan kita langsung membuat energen tur teh panas buat yang kelelahan habis summit sembari membangun tenda satu lagi. Makan malam terus lanjut merajut mimpi sebelum besok pagi langsung turun. 

(instagram.com/potrehkoneg)

Sebelum berpisah menuju kota domisili masing-masing

di Pos 1 ada warungnya!!1

0 comments:

Post a Comment

Komen pakai Hati ya...:)

 

Me n My Ego Template by Ipietoon Cute Blog Design